Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, April 28, 2026

Puisi Ibu

ada sebuah nama yang tak pernah benar-benar jauh

dari degup yang kusembunyikan.

Ia tinggal di antara sunyi yang paling dalam,

di antara rindu yang tak pernah selesai kutuliskan.

9 bulan yang panjang itu telah kau rangkai dengan sabar

yang bahkan waktu pun enggan mengukurnya


engkau menyimpan hidupku di dalam gelap yang kau jaga seperti cahaya

menyembunyikan perihmu agar aku dapat lahir tanpa luka

berpulangkah kuayunkan menjauhi arah yang perah


Namun percayalah beratus bayangmu datang

tanpa permisi menggenangi isi pikiranku sendiri.

Semakin jauh aku berjalan

semakin sering namamu kembali seperti ombak yang tak pernah lelah mengejar pantainya.


Betapa sering aku melangkah tanpa menoleh ke belakang.

Seakan dunia lebih luas daripada peluk yang pernah menyelamatkan ragaku sendiri.

Sejatinya di setiap langkah yang kucuri dari takdir,

ada doamu yang diam-diam menjadi pimpin Allah.


Aku ini hanyalah seorang anak yang kerap lupa

bahwa di setiap hembus nafas

ada pengorbanan yang tak pernah meminta untuk dikenang.

Dan bila segala yang punya gugur satu persatu.


Bila dunia tak lagi memberi tempat untuk berdiri.

Setidaknya aku tahu aku tahu akan ada selalu satu nama yang tak pernah menutup pintunya untukku.

Sebuah nama yang kusebut dengan seluruh kerendahan hati yang kumiliki ibu.

Di mana ada kamu dalamnya? Ah.


Puisi Karya Seorang Ibu Kaarya Neng Aria Canti

 

ARTI SEORANG IBU

karya Neng Aria Cantika


Seorang ibu itu wanita biasa

Tapi punya cinta kasih luar biasa

Seorang ibu itu hanya wanita sederhana

Tapi punya kekuatan yang tak terbatas

Ibu...

Dari rahimmu aku dilahirkan

Dari tanganmu aku dibesarkan

Dari kasihmu aku merasakan hangatnya kehidupan

Ibu...

Kau adalah pelita hidupku

Kau adalah inspirasiku

Kau adalah malaikat tanpa sayapku

Ibu...

Terima kasih atas segala pengorbananmu

Terima kasih atas segala kesabaranmu

Terima kasih atas segala cinta kasihmu



Tuesday, September 30, 2025

Puisi Rindu pada Gumi Sasak

 Rindu pada Gumi Sasak



Keindahan ini menorehkan rasa rindu,

Lalu menghadirkan ribuan kenangan

Pada lembar-lembar mimpi yang tersimpan.


Cerita tanah seberang memanggil angan,

Mengusik tenang selimut Sasakku

Di pagi yang pernah berlalu.


Ingin kuukir senyum terakhir

Pada wajah indah ciptaan Tuhan

Yang bernama Gumi Sasak.


Biarkan kupinjam sejenak napas lamunan,

Untuk membentangkan rindu atas nama keindahan,

Meski luka dan mimpi pilu

Turut terbentang dalam nama yang sama.


Setitik lukisan-Mu di bumi pertiwi

Menjadi mahkota bagi tanah kelahiranku



Sunday, September 28, 2025

Puisi Mutiara Timur Tanah Sasak

 Mutiara Timur Tanah Sasak



Di bawah birunya langit Rinjani,

Sawah keemasan bergoyang mengikuti angin.

Tanah Sasak hadir dengan pesona alam,

Indah dan damai dalam setiap pandangan.


Debur ombak menyentuh pasir putih Mandalika,

Berhias karang kokoh di tepian pantai.

Perahu nelayan beristirahat tenang,

Di teluk jernih yang penuh kenangan.


Bukit hijau dan lembah membentang luas,

Menghapus lelah dan duka perlahan.

Wahai Tanah Sasak, mutiara Nusantara,

Keindahanmu selalu hidup di dalam jiwa

Saturday, September 27, 2025

Puisi Wajah Budaya Sasak

Wajah Budaya Sasak



Hari sunyi membawa jejak tradisi sakral

Gendang beleq dan harum dupa tinggal gema zaman

Keris pusaka, songket, lambung, dan capuk

Perlahan memudar di tengah perubahan


Masihkah generasi Sasak menjaganya?

Rindu budaya lama menyayat batin

Warisan luhur kehilangan kilau

Dan identitas Sasak kian tenggelam oleh waktu


Di berugak tua angin masih bercerita

Tentang adat yang dahulu dijaga sepenuh jiwa

Namun kini langkah zaman berlari cepat

Meninggalkan jejak budaya yang mulai penat


Anak-anak muda menatap dunia baru

Sedang tradisi lama perlahan membisu

Bahasa, petuah, dan nilai kehidupan

Mulai hilang ditelan kemajuan


Meski redup, budaya belum benar-benar pergi

Masih hidup dalam hati yang peduli

Selama Sasak tetap mengenang asalnya

Warisan leluhur akan tetap menyala selamanya

Saturday, August 1, 2020

Puisi Senandung Rindu


Senandung Rindu
Oleh: Helen Yuni Lestari



Debar dadaku mengeja namamu
Menarik, mengharap seluruh kamu
Biar kuteguk sudut bibirmu
Ikat aku dalam nafasmu
Menarik, mendekap seluruh aku
Bingkai kita dalam cerita
Cerita kita dalam bingkai
Sepi menyanyi,
Hati mengiris diri,
Sesak dalam laraku
Memuntahkan puisi untuk kamu
Agar kamu tahu
Bahwa aku sedang rindu.

Tuesday, July 28, 2020

Puisi Lorong Waktu


Lorong Waktu
Evi Sulistiana


Cahaya dari kegelapan itu malu untuk tampak
Ada sekendil kemerlap yang tampak
Dedaunan itu terus saja berbisik
Mataku tak henti memandang siluet berparas gagah bertolak

Imajinasiku terus berkelana
mencari jawaban dari pertanyaan itu
dengan berani aku langkahkan kaki ini perlahan
hingga daunpun tak mendengar derap kakiku

tanganku mulai meraba
lalu mengibas rimba itu
melotot mata ini dengan apa yang disaji
pemandangan keji yang tak aku inginkan

berbalik,
lari sebebas merpati
biarkan air mata ini terhapus oleh angin
yakinlah, alam akan membalas yang serupa

(Universitas Mataram, 06 Desember 2019)