Friday, November 28, 2025

Matematika Yang Tersembunyi Di Alam

Tags

Matematika Yang Tersembunyi Di Alam 

Oleh : Natasya Astari

        Akhir pekan adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang, saat di mana mereka bisa sejenak melepas penat dari tugas sekolah maupun pekerjaan serta menikmati waktu Bersama keluarga dan teman-teman.

       Begitu pula dengan sekelompok remaja yang memanfaatkan akhir pekan mereka dengan penuh semangat. Mereka memutuskan untuk berlibur ke sebuah taman hiburan yang baru beroperasi di Tengah-tengah kota tempat mereka tinggal. Sekelompok remaja itu terdiri dari empat sahabat yang selalu bermain Bersama sejak kecil dan tetap kompak walaupun masing-masing memiliki kegemaran yang berbeda-beda.

        Di antara mereka, ada Excelline seorang remaja Perempuan yang memiiki jiwa romantic terhadap hal-hal indah. Baginya, pengalaman hidup dan alam sekitar adalah kisah berharga yang patut diabadikan melalui kata-kata. Semua itu akan ia torehkan dalam jurnal harian, terkadang merangkai kata menjadi sebuah puisi. Bahkan saat berada di taman hiburan pun, ia tidak lupa membawa binder dan pena kesayangannya untuk merekam kesan-kesannya.

        Berbeda dengan Excelline, Celeste—gadis yang tidak pernah lepas dari kameranya. Bagi Celeste mengabadikan setiap momen patut diabadikan melalui lensa kameranya. Ribuan foto tersimpan rapi dalam kartu memori miliknya. Sebagian besar foto yang dicetaknya berupa benda langit dan fenomena astronomi, ia merupakan seorang astrofil sejati. Kamera yang selalu tergantung di lehernya menjadi simbol kecintaannya pada fotografi

        Ada juga Geo, remaja laki-laki yang bertubuh gemuk denga pipi bulatnya menggemaskan dikenal dengan penggemar kuliner sejati. Namun jangan salah, dipikirannya bukan hanya sekadar tentang makanan, ia juga menyimpan kecintaan besar pada sejarah dan arkeologi. Terkadang, ia selalu mengajak teman-temannya membahas membahas topik itu.

        Dan yang terakhir ada Orion, si mata empat yang selalu membawa ensiklopedia sains dalam otaknya. Remaja laki-laki itu penggemar berat sains. Setiap kali teman-temannya bertanya mengenai berbagai hal, ia akan menjawab dan  menghubungkannya dengan sains. Tidak heran ia dijuluki sebagai ilmuwan cilik.

 


        Di bawah langit cerah dan semilir angin yang berembus lembut, empat sahabat itu tiba di taman hiburan. Tawa riang mereka berpadu dengan riuh suara permainan dan musik yang menggema. Saat area parkir, hamparan bunga berwarna-warni tengah menari diterpa angin sepoi-sepoi. Aroma harum menguar seolah menyambut mereka dengan hangat untuk memasuki taman hiburan.

        "Hei teman-teman! ayo kita berfoto dulu sebagai kenang-kenangan, kebetulan latar belakangnya bagus banget, ada hamparan bunga yang cantik!" Seru Celeste mengajak teman-temannya ke taman bunga mini di area parkir.

        Excelline yang sejak tadi terpesona oleh keindaan taman bunga itu, langsung tersenyum. "Wow aku menjadi terinspirasi untuk membuat sebuah puisi dengan tema bunga!" Ujarnya dengan mata berbinar. Namun, niatnya merangkai kata terpaksa ditunda karena sesi foto sudah dimulai. Salah seorang pengunjung dimintai tolong olehnya untuk memotret mereka berempat. Blitz kamera menyala beberapa kali, menangkap momen berharga dari persahabatan mereka.

      Usai berfoto, Excelline segera duduk di bangku taman Bersama Geo, Ia membuka binder kesayangannya dan mulai mencurahkan isi pikiran. Ia menatap bunga-bunga yang beraneka warna, seolah meminta inspirasi untuk merangkai kata-kata indah. Sementara itu, Geo kembali melanjutkan aktivitas menikmati cemilannya. Ia mengunyah sesekali mengamati teman-temannya yang sibuk sendiri.

        Di sisi lain, Celeste menunjukkan sebuah gambar berupa tampilan bunga matahari dengan mahkota kuning cerah dan biji-biji yang tersusun sempurna. "Lihat! Bagaimana menurutmu hasil tangkapan gambarku?”

    Orion melihat foto itu lebih dekat. "Eh Celeste, kamu tahu tidak bahwa ada sebuah konsep matematika tersembunyi pada bunga matahari ini,” Celeste menjadi penasaran dengan ucapan Orion. “Benarkah? Konsep apa?” Namun belum sempat Orion memberitahu, Geo menyela percakapan mereka berdua.

      “Teman-teman, padahal kita sedang liburan tapi kalian berdua terus saja membicarakan matematika, terutama Orion dalangnya. We listen and we don’t judge setiap kali kalian membahas Pelajaran matematika, aku merasa muak,” Geo akhirnya mengeluarkan argumen yang selama ini ia pendam.

      “Maafkan aku, matematika memang secandu itu untuk dibahas hehehe. Oh iya bukankah pada zaman dahulu, bunga matahari ini dipuja karena melambangkan dewa matahari ya?” Orion menciptakan sebuah topik mengenai Sejarah, agar Geo tidak merasa kesal lagi padanya.

        “Ya! Bahkan di banyak budaya kuno, bunga matahari dianggap sebagai symbol kekuatan dan kehangatan.” Jurus jitu yang Orion terapkan sangat manjur.

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon